
WE Online, Jakarta - Kementerian Pertanian (Kementan) melalui Badan Karantina Pertanian menggelar diskusi bertajuk Percepatan Investasi di Bidang Pertanian yang merupakan rangkaian kegiatan dari lima subsektor lainnya masing-masing adalah peternakan, hortikultura, perkebunan, sarana, dan prasarana, serta tanaman pangan. Percepatan investasi ini sejalan dengan instruksi Menteri Pertanian untuk mendorong pertumbuhan ekspor dan investasi di bidang pertanian.
Seperti diketahui, Indonesia akan memasuki masa revolusi konsumen pada 2020 mendatang. Hal ini ditandai dengan meningkatnya populasi kelas menengah atau middle class pada tahun depan. Hal ini merupakan momentum yang secara positif akan meningkatkan daya saing untuk Indonesia di mata investor asing.
"Peluang ini harus kita sambut secara proaktif, untuk itu kita disini bersama merumuskan apa yang dibutuhkan para calon investor guna penerapan kebijakan ke depan," kata Kepala Badan Karantina Pertanian, Ali Jamil saat memberika arahan pada diskusi tersebut di Jakarta, Rabu (18/9/2019).
Diskusi ini dihadiri 172 calon investor dengan jenis usaha masing-masing, seperti fumigasi, peti kemas kayu, rumah walet dan industri pemrosesan sarang walet dari seluruh Indonesia.
Baca Juga: Kementan Getol Terapkan Modernisasi Pertanian
Menurut Jamil, upaya untuk terus mempersingkat dan mempermudah proses perizinan investasi sangat diperlukan sekaligus juga dengan mempromosikan potensi dan peluang produk pertanian yang ada menjadi agenda yang penting.
Lebih lanjut Jamil membeberkan bahwa pihaknya telah menerapakan empat terobosan untuk mengakselerasi ekspor produk pertanian. Pertama, layanan prioritas yang diberikan kepada pengguna jasa yang patuh, pemeriksaan fisik didasarkan pada metode sampling.
"Kedua, yakni In-Line Inspection, di mana eksportir dilatih dan disertifikasi dalam menyiapkan komoditas yang sehat untuk mempermudah dan mempercepat proses karantina ekspor," sebutnya.
Ketiga, sambung Jamil, yakni protokol karantina, yakni melakukan komunikasi dan terobosan kebijakan SPS dengan negara mitra, guna menghilangkan hambatan ekspor. Keempat, E-Cert, yakni pertukaran sertifikat elektronik dengan negara tujuan ekspor sebagai jaminan kepastian keberterimaan produk.
"Oleh karena itu, kami berharap dalam diskusi ini dapat tergambarkan peluang industri agribisnis perkarantinaan sekaligus mencari cara jitu menghadapi situasi ekonomi dunia saat ini yang berada dalam ancaman resesi dunia," bebernya.
Tantangan dan Peluang Ekspor
Jamil menuturkan, kondisi global seperti perang dagang antara Amerika Serikat dan China menjadi tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan ekspor. Yakni khususnya bagi produk sarang burung walet dan produk turunannya serta industri peti kayu kemas dan fumigasi sebagai pendukung yang menjadi persyaratan negara tujuan ekspor.
"Berdasarkan data sistem otomasi perkarantinaan, IQFAST, volume ekspor per sektor selama kurun waktu Januari hingga Agustus 2019 nilai ekonomi sebesar Rp400 triliun," tuturnya.
Jamil menyebutkan, rincianya yakni subsektor tanaman pangan sebanyak 742,6 ribu ton, hortikultura 704,9 ribu ton, oeternakan terdiri dari hewan hidup 948.405 ekor dan produk hewan sebanyak 20,3 ribu ton, perkebunan 186,8 juta ton.
"Subsektor di luar pertanian, namun memerlukan sertifkasi karantina sebagai persyaratan negara tujuan yakni kehutanan 296,029 ton dan aquatic plant 206.680 ton," ujarnya.
Sementara itu, Direktur Tanaman Semusim dan Rempah, Direktorat Jenderal Perkebunan, Kementan, Agus Wahyudi mengungkapkan bahwa untuk penambahan luas area tebu akan lebih dikonsentrasikan pada lokasi di luar Jawa yang mana dari 10 pabrik gula baru tersebut enam diantaranya berlokasi di luar Jawa.
“Ada tiga strategi dalam meningkatkan produktivitas tebu, yakni tata kelola air, peningkatan kesubutan tanah, serta mengembangkan pola dan jadwal tanam. Sehingga nanti hasilnya dengan rendemen yang bagus, serta hasil produktivitas nya tinggi,“ ujar Agus.
Agus juga menekankan bahwa dengan tambahan 10 pabrik gula baru ini kita semakin optimis dapat memenuhi kebutuhan gula konsumsi, dan kedepan kita siapkan tambahan lagi sesuai dengan arahan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yaitu 15 pabrik gula tambahan pada periode 2020 sampai dengan 2024 untuk memenuhi kebutuhan gula industri sebanyak 3,2 juta ton per tahun.
“Ada tiga strategi dalam meningkatkan produktivitas tebu, yakni tata kelola air, peningkatan kesubutan tanah, serta mengembangkan pola dan jadwal tanam. Sehingga nanti hasilnya dengan rendemen yang bagus, serta hasil produktivitas nya tinggi,“ ujar Agus.
Agus juga menekankan bahwa dengan tambahan 10 pabrik gula baru ini kita semakin optimis dapat memenuhi kebutuhan gula konsumsi, dan kedepan kita siapkan tambahan lagi sesuai dengan arahan Bapak Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman yaitu 15 pabrik gula tambahan pada periode 2020 sampai dengan 2024 untuk memenuhi kebutuhan gula industri sebanyak 3,2 juta ton per tahun.
Post Comment