iPasar News

Geliat Pasar Asean Gelitik Fintech Lokal



Bisnis.com, JAKARTA — Pasar industri jasa keuangan berbasis digital di Asia Tenggara makin menggeliat. Pemain domestik pun tak mau kehilangan kesempatan untuk ekspansi ke kawasan. Salah satunya adalah PT Investree Radhika Jaya (Investree), yang sudah menambah gurita bisnisnya ke Thailand dan Filipina. Dua negara ini dipilih lantaran kondisi inklusi keuangan yang hampir mirip dengan Indonesia.
Untuk itu, produk yang ditawarkan juga mirip, yakni pembiayaan tagihan (invoice) kepada pelaku Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM) setempat. Bahkan, Kejora Ventures sebagai salah satu pemegang saham mengonfirmasi bahwa Investree tengah menyiapkan pendanaan series C yang nilainya diproyeksi mencapai US$50 juta untuk aksi perluasan bisnis ini.

CEO Dompet Kilat Sunu Widyatmoko (dari kiri), CEO Kimo Bernard Martian, CEO dan Founder Amartha Andi Taufan dan Co-Founder and CEO Investree Adrian Gunadi berbincang usai konferensi pers di Jakarta, Kamis (16/5/2019)./Bisnis-Nurul Hidayat
“Kami sedang finalisasi di Filipina. Mudah-mudahan bulan ini kami bisa tanda tangan Joint Venture (JV). Jadi awal tahun depan bisa live,” ujar CEO & Co-Founder Investree Adrian Gunadi, Kamis (12/12/2019).
Sebelumnya, Investree juga sudah menanamkan saham di salah satu Peer-to-Peer (P2P) lending di Vietnam, bernama Eloan. Saat ini, total pembiayaan yang sudah disalurkan mencapai 271,61 miliar dong Vietnam atau sekitar Rp164,99 miliar. Investree berencana untuk menambah jumlah sahamnya sehingga menjadi pemegang saham mayoritas.
“Kami masih menunggu regulasi P2P lending di Vietnam. Kalau sudah ada ketentuan tentang kepemilikan saham asing, kami ingin memperbesar porsi saham kami yang sekarang masih 10 persen,” ujarnya. Pertumbuhan kinerja Investree di Indonesia terbilang cukup melesat. Sejak berdiri pada 2017, nilai pembiayaan Investree secara akumulatif per November 2019, sudah mencapai Rp4,25 triliun.
Adrian membidik pertumbuhan dobel digit hingga Rp8 triliun. Agresivitas Investree dalam mendorong pertumbuhan usaha ke luar negeri didukung oleh komitmen pendanaan yang mereka terima. Di lini konsumtif, ada PT FinAccel Digital Indonesia (Kredivo) yang bakal mulai melebarkan sayap ke Filipina pada 2020, setelah meraih pendanaan senilai US$90 juta pada bulan lalu.
CEO & Co-Founder FinAccel Akshay Garg mengatakan dana segar tersebut utamanya akan dimanfaatkan untuk mengakselerasi bisnis Kredivo di Indonesia yakni di bidang teknologi, termasuk menambah Sumber Daya Manusia (SDM). Namun, seiring dengan kesuksesan Kredivo tumbuh lebih dari 300 persen setiap tahunnya selama 3 tahun berdiri, berekspansi di Asean menjadi pilihan yang tepat untuk tahun depan.
“Filipina sangat mirip seperti Indonesia. Dia negara yang lebih kecil dengan populasi [pengguna internet] 70 juta dan masyarakatnya masih banyak yang underbank. Kami masih tahap finalisasi. Rencananya pada semester I/2020,” ungkapnya.
Garg menerangkan nantinya Kredivo akan mereplikasi model bisnis yang dilakukan di Indonesia kepada calon lini usahanya di Filipina. Dia menilai point-of-sales (POS) lendingmasih menjadi unggulan seiring dengan pertumbuhan e-commerce yang pesat di Asia Tenggara. Saat ini, pihaknya tengah mencari mitra lokal untuk ikut mengoperasikan bisnisnya, termasuk perbankan.
Penghimpunan dana senilai US$90 juta dilakukan dalam kurun waktu 5 bulan dan berhasil ditutup pada November 2019. Pendanaan ini melibatkan sejumlah investor domestik maupun asing, di antaranya Mirae Asset, Naver, dan Square Peg.

Dengan pendanaan ini, FinAccel mencatatkan modal usaha senilai US$200 juta yang terdiri dari lini kredit dan ekuitas. Adapun dana dalam bentuk kredit berasal dari konsorsium pemberi pinjaman termasuk bank dan credit fund. Sebelumnya, PT Pendanaan Teknologi Nusa (KTA Kilat) juga telah mengakuisisi sebuah P2P lending yang telah  beroperasi di India.
Mirip dengan Indonesia dan Filipina, India dinilai memiliki inklusi keuangan yang masih rendah, tetapi penggunaan smartphone-nya tinggi. Di India, KTA Kilat menyasar pembiayaan konsumtif. Sementara itu, sejumlah penyelenggara P2P lending telah beroperasi di Asean di antaranya adalah PT Mitrausaha Indonesia Grup (Modalku). P2P lending yang fokus pada pembiayaan produktif ini telah beroperasi di Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Dominasi Lending
Geliat pasar digital lending di Asia Tenggara dapat terlihat dari riset yang dikeluarkan oleh Google, Temasek, dan Bain & Company, beberapa waktu lalu. Riset tersebut menunjukkan pendapatan layanan keuangan digital pada 2025, akan didominasi sektor lending seiring dengan perlambatan di sektor payment di Asia Tenggara.
Pada 2025, transaksi lending di kawasan Asia Tenggara diprediksi menyentuh US$110 miliar, dengan laju pertumbuhan majemuk tahunan (Compound Annual Growth Rate/CAGR) sebesar 29 persen dibandingkan dengan 2019, yang masih senilai US$23 miliar. CAGR adalah konsep pertumbuhan tahunan rata-rata yang berubah-ubah sehingga mengabaikan volatilitas.

Penjual melayani pembelian telepon seluler (ponsel) di salah satu pusat perbelanjaan elektronik di Bekasi, Jawa Barat, Senin (9/12/2019)./ANTARA FOTO-Risky Andrianto
Laporan bertajuk Fulfilling Its Promise: The future of Southeast Asia's digital financial services itu menyebutkan lebih dari 70 persen konsumen di Asia Tenggara masuk kategori underbanked atau unbanked. Diperlukan setidaknya tiga hal untuk mendukung optimalisasi potensi layanan finansial digital di Asean, yakni regulasi yang suportif, infrastruktur finansial, dan pendanaan yang mencukupi.
Adapun riset e-Conomy SEA 2019, yang juga dirilis oleh ketiga perusahaan tersebut, menyatakan dengan total jumlah penduduk mencapai 570 juta orang, Asia Tenggara merupakan pasar dengan pertumbuhan terbesar di dunia. Pertumbuhan ekonominya rata-rata menyentuh 5 persen dalam 5 tahun terakhir dan rata-rata lebih tinggi 2 persen dibandingkan ekonomi global dalam 10 tahun terakhir.
Jumlah pengguna internet di regional bertambah 10 juta pada tahun lalu, membuat total penggunanya menjadi 360 juta orang pada 2019. Angka itu sekaligus naik 100 juta orang dibandingkan posisi 2015.
Pinjaman digital secara alami akan muncul sebagai kontributor pendapatan terbesar yang dipimpin oleh inovasi dalam pinjaman konsumen dan pembiayaan modal kerja UMKM. Bahkan, Indonesia dan Filipina dinilai menjadi negara yang paling menjanjikan untuk bisnis lending dibandingkan dengan negara Asean lainnya.
Editor : Annisa Margrit
Penulis : Nindya Aldila 
Foto : Bisnis/Felix Jody Kinarwan
Sumber : finansial.bisnis.com
Share on Google Plus

pt ipasar

    Blogger Comment
    Facebook Comment

Post Comment