
Bisnis.com, JAKARTA — Pemerintah berniat mendorong program penghiliran komoditas tanaman pangan pada 2020, demi mendukung peningkatan ekspor dari subsektor ini.
Kementerian Pertanian (Kementan) menyatakan investasi bakal diarahkan pada klasterisasi penanaman dan penghiliran untuk menambah nilai produk tanaman pangan. Nilai investasinya diperkirakan mencapai Rp8,95 triliun.
Angka tersebut bakal digunakan untuk mengerek kinerja industri pengolahan tujuh jenis tanaman pangan, yakni padi, jagung, kedelai, kacang tanah, kacang hijau, ubi kayu, dan ubi jalar.
“Supaya ekspor tinggi kita harus hilirisasi produk-produk pangan. Dengan demikian ada nilai tambah di kita. Kalau saya hitung-hitung, kebutuhan investasinya sekitar Rp8 triliun untuk hilirisasi 7 produk tanaman pangan. Seperti jagung saja, potensi produk turunannya bisa mencapai 43 jenis,” papar Direktur Jenderal Tanaman Pangan Kementan Suwandi usai rapat koordinasi dengan pelaku usaha di kantornya, Jakarta, Senin (2/12/2019).

Petani mengupas kulit jagung menjelang panen di Desa Polagan, Pamekasan, Madura, Jawa Timur, Kamis (3/1/2019)./ANTARA FOTO-Saiful Bahri
Dia mengungkapkan sejumlah daerah telah masuk radar karena dinilai potensial. Untuk pengolahan jagung di Nusa Tenggara Timur (NTT) misalnya, diklaim sudah ada investor asal Rusia yang berminat.
“Ada juga yang berminat investasi di stevia dan gandum. Untuk tanaman sorgum juga ada yang berminat masuk. Di kacang hijau juga pabrik pengolah siap menyerap produksi petani, 10 persen produksi kita sudah ekspor,” terang Suwandi.
Dia turut menyinggung ketersediaan benih unggul serta peningkatan luas tanam untuk merealisasikan program ini. Suwandi tak menyangkal data produksi menjadi salah satu bahan evaluasi yang bakal dijadikan acuan.
Indeks pertanaman pun disebutnya akan digenjot dan diiringi dengan penyederhanaan regulasi.
“Kami sudah mempermudah regulasi. Sekarang lebih bagaimana mempertemukan produsen dengan pelaku usaha. Kalau ketemu modelnya, lalu dipasarkan. Eksportir kansudah tahu pasarnya di mana,” ujarnya.
Direktorat Jenderal (Ditjen) Tanaman Pangan menargetkan produksi tanaman pangan mampu menembus 103,13 juta ton pada 2020. Hasil ini diperoleh dari perkiraan luas panen secara total sebesar 17,75 juta hektare (ha).
Dengan penguatan pengolahan pangan ini, volume ekspor diharapkan dapat mencapai 582.000 ton dengan kontribusi terbesar berasal dari produk olahan jagung serta kacang hijau, yang masing-masing berjumlah 247.455 ton dan 172.234 ton.

Pekerja melakukan proses pengolahan kedelai di salah satu pabrik di Jakarta, Selasa (13/3/2018)./JIBI-Nurul Hidayat
Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) pun pernah menyampaikan bahwa produk pertanian dalam negeri sebenarnya berpotensi diekspor ke negara-negara mitra dagang Indonesia, misalnya Singapura, Australia, Timor Leste, dan AS.
Direktur Amerika II Direktorat Jenderal Amerika dan Eropa Kemenlu Darianto Harsono berharap pelaku usaha dapat memanfaatkan kerja sama komprehensif yang telah disepakati antara Indonesia dan Chile, mitra dagang terbesar ketiga RI di Amerika Selatan.
"Sejak 10 Agustus [2019], Indonesia telah menikmati penurunan tarif sampai nol persen untuk produk-produknya yang akan dipasarkan ke Chile dan ini juga berlaku untuk komoditas pertanian. Ini adalah kesempatan bagi eksportir kita untuk meningkatkan ekspor ke negara tersebut," tuturnya, Senin (12/8).
Singkong dan Padi
Rencana ini mendapat respons positif dari pelaku usaha. Wakil Ketua Komite Ketahanan Pangan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Suharyo Husen mengemukakan potensi hilirisasi tanaman pangan yang besar diperlihatkan oleh komoditas ubi kayu atau singkong.
Dia menyatakan Kadin dan Ditjen Tanaman Pangan Kementan tengah menggarap pilot project untuk penanaman singkong di area seluas 6.000 ha yang tersebar di 3 provinsi yakni Lampung, Bengkulu, dan Kalimantan Barat. Total kebutuhan bibit untuk lahan ini mencapai 10.000 batang.
“Mulai jalan 2020, dan kebutuhan bibitnya 10.000 batang per ha. Dari 1 pohon, ada 2 batang yang panjangnya sekitar 1 meter untuk bibit, itu bisa jadi 5 batang. Jadi 1 pohon bisa 10 batang. Kalau 10.000 bibit, itu bisa 100.000 batang,” sebut Suharyo.
Dalam 10 tahun ke depan, Kadin memperhitungkan pengembangan tanaman singkong setidaknya membutuhkan lahan seluas 1 juta ha dengan investasi menyentuh Rp44 triliun.

Area ini disebut mencakup 500.000 ha untuk pengembangan industri tepung modified cassava flour (mocaf) dan 500.000 ha lainnya untuk tepung tapioka. Keduanya berbahan baku singkong.
“Kebutuhan lahan ini bisa dipenuhi lewat Perhutanan Sosial. Mereka punya lahan yang dikelola sekitar 12,7 juta ha. Kami hanya minta 1 juta ha untuk singkong. Nantinya akan dikonsentrasikan di Sumatra, Kalimantan, dan Sulawesi. Masing-masing asumsikan lah sekitar 200.000 ha, 100.000 ha supaya biaya transportasinya bisa ditekan,” sambung Suharyo.
Namun, untuk pengembangan ini diperlukan peningkatan produktivitas singkong setidaknya 3 kali lipat dari realisasi eksisting, yang sekitar 20 ton per ha. Dengan demikian, diperlukan 60 ton per ha.
Jika hal ini tercapai, maka produksi total singkong diproyeksi mampu menembus 3 juta ton. Dari jumlah itu, 2 juta ton di antaranya dapat dikelola untuk bahan baku mocaf dan tepung tapioka.
Menurutnya, setiap tahunnya, Indonesia mengimpor tepung tapioka sekitar 500.000 ton. Selain itu, apabila proyeksi produksi tadi bisa terpenuhi, setidaknya 20 persen dari total kebutuhan gandum nasional dapat disubstitusi oleh tepung tapioka.
Sementara itu, Ketua Umum Persatuan Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras (Perpadi) Sutarto Alimoeso mengakui bahwa beras juga memiliki potensi ekspor, khususnya untuk beras khusus seperti beras merah, beras hitam, dan beras organik.
“Kita memiliki beras-beras khusus yang bisa diekspor dan mampu bersaing. Di pasar dunia, saya sudah pelajari kita mampu bersaing. Misalnya beras merah, pandan wangi, mentik wangi, mentik susu,” paparnya.

Pekerja memanen singkong sebagai bahan baku tepung tapioka di lahan pertanian Kelurahan Blabak, Kota Kediri, Jawa Timur, Jumat (5/5/2017)./ANTARA FOTO-Prasetia Fauzani
Kendati demikian, pengembangan hilirisasi padi dinilai lamban. Sutarto menyampaikan sebenarnya produk sampingan dari pengolahan padi sangat beragam dan memiliki nilai tinggi meskipun volumenya terbilang sedikit.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), volume ekspor beras mencapai 3.112 ton dan beras ketan mencapai 97,5 ton pada 2018.
Tetapi, tahun ini, angkanya menunjukkan penurunan yang sangat dalam. Realisasi ekspor beras hanya 718 ton, sedangkan beras ketan sebesar 67 ton.
Guna mendorong volume, Sutarto mengemukakan efisiensi dalam produksi beras perlu dikejar mengingat kendala terbesar dalam mendongkrak daya saing Indonesia adalah biaya besar di sisi hulu.
Post Comment